KEBUTUHAN CAIRAN TUBUH
Cairan dan elektrolit merupakan komponen tubuh yang berperan dalam memelihara fungsi tubuh . Tubuh kita terdiri atas sekitar 60% Air yang tersebar di dalam maupun di luar sel , yang semuanya tergantung atas usia , jenis kelamin, dan kandungan lemak.
1. Volume dan distribusi cairan tubuh
a. Volume cairan tubuh .
Total jumlah cairan tubuh kira kira 60% dari berat badan pria dan 50% dari berat badan wanita. Jumlah ini tergantung atas kandungan lemak dan usia. Usia juga berpengaruh terhadap TBW, dimana semakin tua usia, semakin sedikit kandungan air d tubuhnya.
b. Distribusi cairan
Cairan di dalam tubuh didistribusikan antara dua kompartemen, yaitu pada intraselular dan ekstraselular. Cairan intraselular kira kira 2/3 atau 40% dari BB , sedangkan cairan ekstraselular 20% dari BB , cairan ini terdiri atas plasma5%, cairan interstisial 10-15% dan transelular 1-3%.
2. Komponen cairan tubuh
Cairan tubuh mengandung :
• Oksigen yang berasal dari paru-paru
• Nutrisi yang berasal dari saluran pencernaan
• Produk metabolisme seperti karbon dioksida
• Ion ion yang merupakan bagian dari senyawa atau molekul atau disebut juga elektrolit.
3. Fungsi cairan.
? Mempertahankan panas tubuh dan pengaturan temperatur tubuh
? Transpor nutrisi ke sel
? Transpor hasil sisa metabolisme
? Pelumas antarorgan
? Mempertahankan tekanan hidrostatik dalam sistem kardiovaskular.
4. Konsentrasi cairan penuh
a. Osmolaritas
Osmolaritas adalah konsentrasi larutan atau partikel terlarut perliter larutan, diukur dalam miliosmol. Osmolaritas ditentukan oleh jumlah partikel terlarut per kilogram air . dengan demikian osmolaritas menciptakan tekanan osmotik sehingga mempengaruhi pergerakan cairan.
Jika terjadi penurunan osmolaritas CES , maka terjadi pergerakan air dan CES ke CIS , sebaliknya jika terjadi penurunan osmolaritas CES, maka akan terjadi pergerakan dari CIS ke CES, Partikel yang berperan adalah sodium atau natrium , urea dan glukosa.
b. Tonisitas
Tonisitas merupakan osmolaritas yang menyebabkan pergerakan air dari kompartemen ke kompartemen yang lain. Beberapa istilah yang terkait dengan tonisitas adalah sebagai berikut:
• Larutan isotonik, adlah larutan yang mempunyai osmolaritas sama efektifnya dengan cairan tubuh misalnya NaCl 0,9%. Ringer laktat dan larutan 5%dextrose dalam air.
• Larutan hipertonikadalah larutan ya ng memiliki osmolaritas efektif lebih besar dari cairan tubuh , misal larutan 0,45% NaCl dan larutan 0,33% Na Cl.
• Larutan Hipotomik adalah larutan yang mempunyai osmolaritas efektif lebih kecil dari cairan tubuh .
5. Tekanan cairan.
Perbedaan lokasi antara di interstisial dan oada ruang vaskula menimbulkan tekanan cairan yaitu tekanan Hidrostatik, dan tekanan osmotik koloid.
• Tekanan hidrostatik adalah tekanan yang disebabkan karena volume cairan dalam pembuluh darah akibat kerja organ tubuh.
• Tekanan osmotik koloid merupakan tekanan yang disebabkan karena plasma protein. Perbedaan tekanan kedua tersebut mengakibatkan pergerakan cairan.
6. Pergerakan cairan tubuh .
Mekanisme pergerakan cairan tubuh melalui tiga proses berikut ini.
a. Difusi, yaitu merupakan proses dimana partikel yang terdapat dalam cairan bergerak dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah sampai terjadi keseimbangan. Cairan dan elektrolit menembus membran sel. Kecepatan difusi dipengaruhi oleh ukuran molekul . konsentrasi larutan, dan temperatur.
b. Osmosis, merupakan bergeraknya pelarut bersih seperti air , melalui membran semipermiable dari larutan yang berkonsentrasi lebih rendah ke konsentrasi yang lebih tinggi dan sifatnya menarik.
c. Transpor aktif, merupakan partikel bergerak dari konsentrasi rendah ke tinggi karna adanya daya aktif dari tubuh seperti pompa jantung.
7. Keseimbangan cairan.
Keseimbangan cairan diatur oleh intake atau masukan cairan, dan pengeluaran cairan. Pemasukan cairan berasal dari minuman dan makanan. Kebutuhan cairan setiaphari antara 1800-2500 ml/hari. Sekitar 1200 ml berasal dari minuman dan 1000 ml dari makanan. Sedangkan pengeluaran cairan melalui ginjal dalam bentuk urine 1200-1500 ml/hari, feses 100 ml, paru paru 300-500 ml, dan kulit 600-800 ml.
8. Faktor faktor yang mempengaruhi keseimbngan cairan dan elektrolit.
a. Usia.
Variasi usia berkaitan dengan luas permukaan tubuh , metabolisme yag di perlukan dan berat tubuh.
b. Temperatur lingkungan.
Panas yang berlebihan menyebabkan berkeringat. Seseorang dapat kehilangan NaCl melalui keringat sebanyak 15-30 gram/hari.
c. Diet.
Pada saat tubuh kekurangan nutrisi, tubuh akan memecah cadangan energi, proses ini menimbulkan pergerakan cairan dari interstisial ke intraselular.
d. Stres.
Stres dapat menimbulkan peningkatan metabolisme sel,konsentrasi darah dan glikolisis otot, mekanisme ini dapat menimbulkan retensi sodium dan air. Proses ini dapat meningkatkan produksi ADH dan menurunkan produksi urine.
e. Sakit.
Keadaan pembedahan, trauma jaringan, kelainan ginjal dan jantung gangguan hormon akan mengganggu keseimbangan cairan.
9. Pengaturan keseimbangan cairan
a. Rasa dahaga.
Mekanisme rasa dahaga.
• Penurunan fungsi ginjal merangsang pelepasan renin , yang pada akhirnya menimbulakan produksi angiotensin II yang dapat merangsang hipotalamus untuk melepaskan substrat neural yang yang bertanggung jawab terhadap sensasi haus.
• Osmoreseptor di hipotalamus mendeteksi peningkatan tekanan osmotik dan mengaktivasi jaringan saraf yang dapat mengakibatkan tekanan osmotik dan mengaktivasi jaringan syaraf yang dapat mengakibatkan sensasi rasa dahaga.
b. Antideuritik Hormon(ADH)
ADH dibentuk dihipotalamus dan disimpan dalam neurohifosis dari hiposis posterior. Stimuli utama untuk sekresi ADH adalah peningkatan osmolaritas dan penurunan cairan ekstrasel . hormon ini meningkatkan reabsorbsi air pada duktus koligentes sehingga dapat menghemat air.
c. Aldosteron
Hormon ini di ekskresi oleh kelenjar adrenal yang bekerja pada tubulus ginjal untuk meningkatkan absorbsi natrium. Pelepasan aldosteron di rangsang oleh perubahan konsentrasi kalium, nutrium serum, dan sistem renin angiotensin serta sangat efektif dalam mengendalikan hiperkalemia.
d. Prostaglandin
Adalah asam lemak alami yang terdapat dalam banyak jaringan dan berfungsi dalam merespon radang , pengendalian tekanan darah, kontraksi uterus, dan mobilitas gastroinstestinal.
e. Glukokortikoid
Meningkatkan respons natrium dan air , sehingga volume darah naik dan terjadi retensi natrium . perubahan kadar glukokortikoid menyebabkan perubahan pada keseimbangan volume darah.
10. Cara pengeluaran cairan.
Pengeluaran cairan terjadi melalui organ organ seperti:
a. Ginjal
• Pengaturan utama keseimbangan cairan
• Produksi urine untuk semua usia
• Pada orang dewasa produksi urine skitar 1.5 liter/hari
• Jumlah urine yang di hasilkan dipengaruhi oleh ADH.
b. Kulit.
• Hilangnya cairan melalui kulit di atur oleh saraf simpatis yang merangsang aktivitas kelenjar keringat.
• Rangsangan kelenjar keringat dapat di hasilkan dari aktifitas otot, temperatur lingkungan, dan demam,
• Disebut juga isensible water loss IWL skitar 15-20 ml/24 jam
c. Paru paru
• Menghasilkan IWL skitar 400 ml/hari
• Meningkatnya cairan yang hilang sebagai respons terhadap perubahan kecepatan dan kedalaman nafas akibat pergerakan atau demam.
d. Gastrointestinal
• Dalam kondisi normal cairan yang hilang dari gastrointestinal setiap hari sekitar 100-200 ml.
• Perhitungan IWL secara keseluruhan adlah 10-15 cc/kgBB/24 jam. Dengan kenaikan 10% dari IWL pada tiap kenaikan temperatur 1 derajat celcius.
11. Pengaturan elektrolit
a. Natrium, merupakan kation yang paling banyak terdapat pada cairan ekstrasel.
b. Kalium berfungsi sebagai eksitabilitas beoromoskular dan kontraksi otot,
c. Kalsium berguna untuk integritas kulit dan struktur sel, konduksi jantung, pembekuan darah, serta pembentukan tulang dan gigi.
d. Magnesium, sangat penting untuk aktivitas enzim.
e. Klorida terdapat pada cairan ekstrasel dan intrasel.
f. Bikarbinat diatur oleh ginjal , merupakan bufer kimia utama dalam tubuh dan terdapat pada cairan ekstrasel dan intrasel.
g. Fosfat, berfungsi untuk meningkatkan kegiatan neuromuskular, metabolisme karbohidrat , dan pengaturan asam basa.
12. Masalah keseimbangan cairan.
a. Hipovolemia.adalah suatu kondisi akibat kekurangan volume CES dan dapat terjadi karna kehilangan melalui kulit, ginjal, gastrointestinal, pendarahan menimbulkan syok hipovolemia.
Hipovolemia yang berlangsung lama dapat mengakibatkan gagal ginjal akut.
Gejala: pusing , lemah , letih ,anoreksia, mual muntah , rasa haus, gangguan mental konstipasi dan oliguri, denyut jantung mningkat, temperatur meningkat , turgor kulit menurun, lidah kering dan kasra, mukosa mulut kering . tanda tanda penurunan berat badan akut, mata cekung, pada pasien syok tampak pucat.
b. Hiporvolemia
Adalah penambahan atau kelebihan volume CES , yg dapat terjadi pada saat:
• Stimulasi kronis ginjaluntuk menhan natrium dan air.
• Fungsi ginjal abnormal, dengan penurunan ekskresi natrium dan air.
• Kelebihan pemberian cairan.
• Perpindahan cairan intersistal ke plasma.
Gejala : sesak nafas, peningkatan dan penurunan tekanan darah, nadi kuat, asites, edema, adanya ronkhi, kulit lembab, distensi vena leher, dan irama gallop.
c. Edema, adalah kelebihan cairan dalam ruang interstisial yang terlokalisasi. Edema terjadi karna hal hal berikut ini:
1. Meningkatnya tekanan hidrostatik
2. Meningkatnya permeabilitas
3. Penurunan tekanan plasma onkotik
4. Bendungan aliran limfa
5. Gagal ginjal .
13. Keseimbangan asam basa.
a. System buffer .
Buffer membantu mempertahankan keseimbangan asam basa dengan menetralisir kelebihan asam melalui pemindahan atau pelepasan ion hydrogen. Jika terjadi kelebihan ion hydrogen pada cairan tubuh , maka buffer akan mengikat ion hydrogen sehingga perubahan pH dapat dieliminasi.
b. Pengaturan pernafasan.
Paru paru membantu mengatur keseimbangan asam basadengan cara mengeluarkan karbondioksida CO2, CO2 juga berkaitan dengan air membentuk asam karbonat. Reaksi kimia ini bersifat reversible, asam karbonat dapat dipecah menjadi karbon dioksida dan air. Bekerja sama dengan system buffer, paru paru mengatur keseimbangan asam basa dan Ph dengan cara pernafasan cepat dan dalam.
c. Pengaturan oleh ginjal .
Pengaturan keseimbangan asam basa oleh ginjal relative lbih rendah lama dibandingkan dengan pernafasan dan system buffer yaitu beberapa jam atau beberapa hari setelah adanya ketidak seimbangan asam basa.
14. Ketidak seimbangan asam basa .
Ketidak seimbangan asam basa bias di klasifikasikan menjadi, asidosis metabolic, asidosis respiratorik, alkalosis metabolic, dan alkalosis respiratorik.
Penyebab : mencerna sebagian besar basa, antasida, mengatasi rasa kembung.
Gejala : patis , lemah, gangguan mental, kram dan pusing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar